Ini Penyebab Rupiah Kalah Jauh dari Baht
2019-09-03 06:45:02

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2019 merupakan tahun yang sulit bagi pasar keuangan Indonesia, pun begitu bagi pasar keuangan dunia. Bayangkan, berbagai sentimen negatif terus menghantui pergerakan pasar keuangan dunia di sepanjang tahun ini.

Namun yang melegakan, ternyata kinerja rupiah di sepanjang tahun ini bisa dibilang oke. Memang, sepanjang tahun ini rupiah hanya menguat tipis sebesar 0,87% di pasar spot melawan dolar AS.

Akan tetapi, mayoritas mata uang negara-negara kawasan Asia lainnya justru melemah di hadapan dolar AS. Tercatat, hanya ada empat negara yang mata uangnya bisa menaklukkan greenback pada tahun ini, termasuk Indonesia. Tiga lainnya adalah Thailand, Jepang, dan Filipina.




Khusus untuk yen, wajar jika mata uang Negeri Sakura tersebut menunjukkan kinerja yang oke sepanjang tahun ini. Pasalnya, yen merupakan safe haven atau instrumen yang akan menjadi tempat persinggahan pelaku pasar kala kondisi tak mendukung untuk masuk ke instrumen yang relatif berisiko.

Namun, kinclongnya kinerja baht selaku mata uang Thailand patut menjadi sorotan. Bukan safe haven, tapi baht mampu memukul mundur dolar AS sebesar lebih dari 5%.

Untuk diketahui, salah satu sentimen yang mewarnai pergerakan pasar keuangan dunia di sepanjang tahun ini adalah perang dagang AS-China yang kian hari kian panas saja. Menjelang dan pada akhir pekan kemarin, perang dagang antar dua negara terbesar di dunia tersebut kembali tereskalasi.

Eskalasi pertama dari pengumuman China bahwa pihaknya akan membebankan bea masuk bagi produk impor asal AS senilai US$ 75 miliar. Pembebanan bea masuk tersebut akan mulai berlaku efektif dalam dua waktu, yakni 1 September dan 15 Desember. Bea masuk yang dikenakan China berkisar antara 5%-10%.

Lebih lanjut, China juga mengumumkan pengenaan bea masuk senilai 25% terhadap mobil asal pabrikan AS, serta bea masuk sebesar 5% atas komponen mobil, berlaku efektif pada 15 Desember. Untuk diketahui, China sebelumnya telah berhenti membebankan bea masuk tersebut pada bulan April, sebelum kini kembali mengaktifkannya.

Eskalasi berikutnya datang dari langkah AS yang merespons bea masuk balasan dari China dengan bea masuk versinya sendiri. Melalui cuitan di Twitter, Trump mengumumkan bahwa per tanggal 1 Oktober, pihaknya akan menaikkan bea masuk bagi US$ 250 miliar produk impor asal China, dari yang saat ini sebesar 25% menjadi 30%.

Sementara itu, bea masuk bagi produk impor asal China lainnya senilai US$ 300 miliar yang akan mulai berlaku pada 1 September (ada beberapa produk yang pengenaan bea masuknya diundur hingga 15 Desember), akan dinaikkan menjadi 15% dari rencana sebelumnya yang hanya sebesar 10%.

Kala perang dagang antar dua negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia terus-menerus memanas, perekonomian global akan mendapatkan tekanan yang signifikan dan itulah yang terjadi saat ini.

Pada tahun 2018 dan 2019, perang dagang AS-China membawa laju perekonomian dunia meredup. Pada tahun 2017, International Monetary Fund (IMF) mencatat pertumbuhan ekonomi dunia melonjak menjadi 3,789%, dari yang sebelumnya 3,372% pada tahun 2016, sekaligus menandai laju pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2011.

Pada tahun 2018, pertumbuhan ekonomi dunia melandai menjadi 3,6%. Untuk tahun 2019, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan kembali melandai menjadi 3,2%. Jika terealisasi, maka akan menandai laju pertumbuhan ekonomi terburuk sejak tahun 2009 kala perekonomian dunia justru terkontraksi sebesar 0,107% akibat krisis keuangan global.

Tak heran jika mata uang negara-negara kawasan Asia dilego pelaku pasar untuk ditukarkan ke dolar AS yang juga merupakan safe haven seperti yen.

Tapi, apa yang membuat rupiah sampai kalah jauh dari baht?

Padahal, Pertumbuhan Ekonomi Thailand Anjlok Loh

Baht mampu membukukan apresiasi yang luar biasa signifikan kala pertumbuhan ekonomi Thailand justru melambat. Tercatat, pertumbuhan ekonomi Thailand melambat dengan sangat signifikan dalam dua kuartal pertama tahun ini.

Pada kuartal I-2019, perekonomian Thailand tercatat tumbuh sebesar 2,8% secara tahunan (year-on-year/YoY), melansir data dari Refinitiv. Pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode kuartal I-2018 yang mencapai 5% YoY.

Pada kuartal II-2019, perekonomian Thailand membukukan pertumbuhan sebesar 2,3% YoY, juga melambat dari pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya (kuartal II-2018) yang sebesar 4,7% YoY.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejatinya mampu menanjak di kuartal I-2019, walaupun tipis saja, sebelum akhirnya diikuti oleh perlambatan pada tiga bulan kedua tahun 2019. Namun, perlambatannya tak separah dengan yang dialami oleh Thailand.

Melansir data Refinitiv, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,07% YoY pada kuartal I-2019, naik tipis dari pertumbuhan pada kuartal I-2018 yang sebesar 5,06% YoY. Pada kuartal II-2019, perekonomian Indonesia membukukan pertumbuhan sebesar 5,05% YoY, turun dari pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya (kuartal II-2018) yang sebesar 5,27% YoY.

Untuk keseluruhan tahun 2019, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Thailand anjlok menjadi 3,47%, dari yang sebelumnya 4,1% pada tahun 2018.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2019 diproyeksikan berada di level 5,24%, naik dari capaian tahun 2018 yang sebesar 5,17%.

Seharusnya, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi bisa menjadi modal yang besar bagi mata uang dari suatu negara untuk bergerak ke posisi yang lebih perkasa. Tapi, yang terjadi pada tahun ini justru sebaliknya. 

Thailand yang perekonomiannya bisa dibilang sedang loyo justru melihat mata uangnya terus mencetak apresiasi melawan dolar AS, sementara Indonesia yang relatif lebih oke laju perekonomiannya justru hanya mampu menguat tipis melawan greenback. 

JUDUL ASLI ARTIKEL :Terungkap, Ini Penyebab Rupiah Kalah Jauh dari Baht!


SUMBER : CNBCINDONESIA.COM

News

Harga Minyak Turun Mata Uang Asia Menguat
Bisnis.com, JAKARTA -- Sebagian besar mata uang emerging market Asia mendapatkan keuntungan kecil Read more
Dolar AS Perkasa di Asia Tapi Kalah Lawan Rupiah
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI) Read more
Rupiah Menguat Nantikan Keputusan Suku Bunga
Bisnis.com, JAKARTA - Kurs rupiah menyentuh posisi Rp14.080 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Read more

Contact Us

Head Office

A   Jl.S Parman Kav 68, Slipi,

     Jakarta Barat, 11410

P   021-5332929

     021-5331919

E   Info@duasisimoneychanger.co.id



 

Copyright © 2011 | All Rights Reserved | Dua Sisi Money Changer | PT. Tetra Dua Sisi