Rupiah Menang Tipis Lawan Dolar Australia
2019-10-04 10:18:23

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Australia labil melawan rupiah pada perdagangan Jumat (4/10/19) setelah mencatat penguatan cukup tajam Kamis kemarin. Rilis data ekonomi dari Australia hari ini yang cukup bagus membuat Mata Uang Kanguru bergerak fluktuatif.

Pada pukul 14:49 WIB, dolar Australia diperdagangkan di level Rp 9.546,78, atau melemah 0,05% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sebelumnya Mata Uang Kanguru sempat menguat ke Rp 9.570,42, dan terendah hari ini Rp 9.524,25.

Biro Statistik Australia pagi tadi melaporkan penjualan ritel pada Agustus tumbuh 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya yang stagnan 0%. Data ini menjadi kabar bagus, tetapi masih belum cukup merubah persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi Australia yang melambat.





Akibat pelambatan tersebut bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) memangkas suku bunga pada Selasa (1/10/19) lalu. Pemangkasan tersebut merupakan yang ketiga di tahun ini, dan suku bunga RBA kini 0,75% menjadi yang terendah sepanjang sejarah. Sebelumnya, bank sentral pimpinan Philip Lowe ini sudah memangkas suku bunga pada Juni dan Juli.

Tidak hanya itu, RBA membuka peluang kembali memangkas suku bunga jika diperlukan untuk merangsang perekonomian. 

"Para dewan gubernur akan terus memantau perkembangan, termasuk pasar tenaga kerja, serta mempersiapkan pelonggaran moneter lebih lanjut jika diperlukan" kata Lowe saat pengumuman kebijakan moneter Selasa lalu.

Sikap RBA yang "belum puas" memangkas suku bunga memberikan tekanan yang kuat bagi dolar Australia. Pelaku pasar kini melihat peluang sebesar 60% RBA akan memangkas suku bunga di bulan November sebesar 25 bps menjadi 0,5%. Sebelum pernyataan tersebut peluang itu hanya 30%, ini berarti naik dua kali lipat.

RBA dikatakan masih memiliki amunisi dengan beberapa kali pemangkasan suku bunga, dan setelah jika perekonomian tidak membaik kebijakan tidak biasa atau unconventional akan diterapkan.

"RBA kini memiliki tiga kali, atau bahkan lebih sedikit lagi, kebijakan pemangkasan suku bunga sebelum mereka mempertimbangkan kebijakan moneter unconventional - suku bunga negatif, quantitative easing (QE), atau menetapkan target yield obligasi" kata Rob Carnell, kepala ekonomi Asia Pasifik di ING, sebagaimana dilansir Reuters.

Sementara itu ekonom dari Goldman Sachs memprediksi jika RBA tidak ingin menerapkan suku bunga negatif, maka diperlukan QE senilai AU$ 200 miliar untuk menstimulasi perekonomian agar bisa bangkit kembali.

Dengan RBA diprediksi masih akan terus melonggarkan kebijakan moneter, ke depannya kurs dolar Australia berpeluang akan terus melemah.


Sumber : Cnbcindonesia.com

News

Rupiah Lanjutkan Penguatan di Awal Perdagangan
Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di zona hijau pada awal perdagangan hari in Read more
Perundingan Dagang AS-China Dimulai USD Naik Tipis
Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) mempertahankan pergerakannya di wilayah positif Read more
Dolar AS Rawan Terkoreksi Lagi Ini Penekannya
Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif antara zona positif dan negatif pada perdagangan pagi in Read more

Contact Us

Head Office

A   Jl.S Parman Kav 68, Slipi,

     Jakarta Barat, 11410

P   021-5332929

     021-5331919

E   Info@duasisimoneychanger.co.id



 

Copyright © 2011 | All Rights Reserved | Dua Sisi Money Changer | PT. Tetra Dua Sisi