Minyak dunia sudah di atas US$100 per barel. Mengapa rupiah masih relatif stabil?
Harga minyak Brent pagi ini bertahan di kisaran US$101 per barel. Kenaikan terjadi setelah serangan terhadap sejumlah kapal di sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Gangguan di kawasan ini dapat memengaruhi distribusi minyak, biaya pengiriman, hingga harga energi di berbagai negara.Bagi Indonesia, harga minyak penting karena berkaitan dengan biaya impor, inflasi, dan kebutuhan valuta asing.
Di sisi lain, dolar AS belum menguat secara agresif.
Indeks dolar berada di sekitar 98,8. Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa rupiah masih relatif stabil meskipun harga minyak dan ketegangan geopolitik meningkat.
Jadi, pasar saat ini menerima dua sentimen yang berbeda:
• Harga minyak memberi tekanan
• Dolar global belum menguat signifikan
Pasar obligasi juga perlu diperhatikan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,85%. Yield yang tinggi biasanya membuat aset berbasis dolar lebih menarik bagi investor global.
Perubahan aliran dana tersebut dapat memengaruhi mata uang negara berkembang dan pasar saham, termasuk Indonesia.
Wall Street pada perdagangan terakhir ditutup melemah:
• Dow Jones: -0,77%
• S&P 500: -0,48%
• Nasdaq: -0,64%
Kenaikan harga energi dan yield obligasi menjadi perhatian pasar. Saham energi bergerak lebih kuat, sementara sejumlah saham teknologi mengalami tekanan.
Fokus berikutnya adalah data inflasi produsen AS atau Producer Price Index yang dijadwalkan rilis malam ini sekitar pukul 19.30 WIB.
Data ini digunakan pasar untuk membaca tekanan biaya di tingkat produsen serta mempertimbangkan kemungkinan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Setelah itu, perhatian beralih ke inflasi konsumen AS pada Jumat malam.
Kesimpulannya, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh naik atau turunnya dolar.
Harga minyak, yield obligasi AS, kebijakan The Fed, arus modal, dan kondisi geopolitik bergerak bersama dan dapat memberikan pengaruh yang berbeda pada waktu yang sama.
Informasi ini bersifat edukatif dan berdasarkan kondisi pasar pada 10 September 2026. Bukan prediksi kurs atau rekomendasi transaksi. Kurs transaksi dapat berbeda dari kurs pasar dan dapaberubah sewaktu-waktu
.