News & Events Detail

18 September 2026

The Fed dan Bank of Japan Naikkan Suku Bunga: Apa yang Ditunggu Pasar Selanjutnya?

Pasar keuangan global menghadapi perubahan kebijakan dari dua bank sentral utama dalam pekan yang sama. The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%. Dua hari kemudian, Bank of Japan menaikkan suku bunga dari 1,00% menjadi 1,25%, level tertinggi dalam 31 tahun.

Kedua keputusan tersebut sama-sama bertujuan menjaga inflasi, tetapi muncul dari latar belakang ekonomi yang berbeda. The Fed sedang memperkuat kembali kebijakan ketat setelah tekanan harga di Amerika Serikat bertahan tinggi. Jepang, sementara itu, melanjutkan normalisasi setelah puluhan tahun menjalankan suku bunga sangat rendah untuk melawan deflasi.

Mengapa The Fed kembali menaikkan suku bunga?

The Fed menaikkan bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 setelah menilai inflasi masih terlalu tinggi. Tekanan harga dipengaruhi oleh kenaikan energi, kebijakan tarif, belanja domestik yang tetap kuat, serta investasi modal yang masih tinggi.

Kondisi tenaga kerja Amerika Serikat juga dinilai cukup tangguh. Situasi tersebut memberi ruang bagi The Fed untuk menaikkan biaya pinjaman tanpa langsung mengkhawatirkan perlambatan tajam di pasar kerja.

Proyeksi terbaru menunjukkan 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan tambahan sebelum akhir 2026. Meski demikian, proyeksi tersebut bukan keputusan yang sudah ditetapkan. Arah kebijakan berikutnya tetap bergantung pada data inflasi, ketenagakerjaan, pertumbuhan ekonomi, dan perkembangan harga energi.

Bagaimana pasar merespons keputusan The Fed?

Reaksi awal pasar terlihat pada penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield yang tinggi dapat membuat aset berbasis dolar lebih menarik bagi investor global dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Namun, pada perdagangan berikutnya, yield Treasury AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,93% dan Wall Street kembali menguat. Dow Jones naik 0,62%, S&P 500 menguat 1,14%, dan Nasdaq bertambah 1,69%. Saham teknologi serta semikonduktor menjadi penggerak utama.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak hanya merespons kenaikan bunga. Investor juga memperhitungkan bahwa keputusan tersebut telah diperkirakan, harga minyak mulai turun, dan The Fed masih akan mempertimbangkan data sebelum menentukan langkah berikutnya.

Bank of Japan juga menaikkan bunga

Bank of Japan pada Jumat, 18 September 2026, menaikkan bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%. Keputusan itu disetujui dengan suara 7–2 dan membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi sejak 1995.

Perlu dibedakan bahwa keputusan suku bunga dibuat oleh Bank of Japan sebagai bank sentral, bukan oleh pemerintah Jepang secara langsung. Pemerintah dapat menyampaikan pandangan mengenai ekonomi atau mengambil langkah fiskal serta intervensi valuta asing, tetapi kebijakan moneter diputuskan oleh dewan kebijakan BOJ.

Kenaikan tersebut merupakan kelanjutan dari proses normalisasi setelah Jepang lama menggunakan suku bunga sangat rendah. BOJ menghadapi risiko kenaikan biaya impor karena yen yang lemah dan harga energi yang tinggi. Inflasi inti Jepang pada Agustus tercatat 1,7% secara tahunan, sedangkan indeks yang tidak memasukkan makanan segar dan energi naik 1,9%.

Mengapa yen justru melemah setelah bunga naik?

Secara teori, kenaikan bunga dapat membantu mata uang karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Namun, yen justru melemah hingga sekitar 157 per dolar AS setelah keputusan BOJ diumumkan.

Salah satu alasannya adalah kenaikan tersebut telah diperkirakan pasar. Selain itu, keputusan tidak bulat karena dua anggota dewan memilih menolak kenaikan. Pasar menilai perbedaan pandangan tersebut dapat mencerminkan kehati-hatian BOJ dalam melanjutkan pengetatan.

Dengan kata lain, pelaku pasar tidak hanya melihat angka 1,25%. Mereka juga menilai apakah BOJ siap menaikkan bunga kembali dan seberapa cepat proses normalisasi akan berlangsung.

Apa yang kini ditunggu dari Jepang?

Setelah keputusan bunga keluar, fokus pasar berpindah kepada penjelasan Gubernur BOJ Kazuo Ueda. Beberapa hal utama yang dicermati adalah:

1. Arah kenaikan bunga berikutnya

Pasar ingin mengetahui apakah kenaikan menjadi langkah lanjutan dalam rangkaian pengetatan atau hanya penyesuaian sementara. Pernyataan mengenai inflasi, upah, dan aktivitas ekonomi akan menjadi petunjuk utama.
 

2. Penilaian terhadap pelemahan yen

Yen yang lemah dapat membantu eksportir Jepang, tetapi juga meningkatkan harga impor energi dan bahan baku. Pasar akan memperhatikan apakah BOJ melihat pelemahan yen sebagai risiko tambahan bagi inflasi.

3. Perkembangan upah dan konsumsi

BOJ memerlukan bukti bahwa kenaikan harga didukung pertumbuhan upah serta permintaan domestik, bukan hanya akibat impor yang mahal. Pertumbuhan upah yang konsisten akan memperkuat dasar normalisasi kebijakan.

4. Koordinasi dengan pemerintah Jepang

Pelaku pasar juga mencermati kemungkinan langkah pemerintah untuk mengatasi pelemahan yen dan kenaikan biaya hidup. Koordinasi kebijakan dapat meliputi kebijakan fiskal, subsidi energi, komunikasi nilai tukar, atau intervensi pasar bila pergerakan yen dianggap berlebihan.

Dampaknya bagi rupiah dan pasar Indonesia

Kenaikan bunga The Fed cenderung mendukung dolar dan meningkatkan persaingan dalam menarik modal global. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap rupiah dan aset negara berkembang.

Kenaikan bunga BOJ menambah faktor lain yang perlu diperhatikan. Jika investor Jepang mengurangi penempatan dana di luar negeri karena imbal hasil domestik meningkat, arus modal global dapat berubah. Sebaliknya, bila yen tetap lemah karena BOJ dinilai kurang agresif, dolar masih dapat bertahan kuat terhadap mata uang Asia.

Bagi IHSG, dampaknya dapat muncul melalui perubahan yield global, arus dana asing, dan valuasi saham. Saham teknologi serta perusahaan yang sensitif terhadap biaya pendanaan biasanya lebih memperhatikan perubahan tingkat bunga. Pada saat yang sama, penurunan minyak Brent ke bawah US$104 dapat membantu mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya impor energi Indonesia.

Bank Indonesia akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September. Pasar akan mencermati penilaian BI terhadap stabilitas rupiah, inflasi, arus modal, dan perubahan kebijakan bank sentral global.

Kesimpulan

Kenaikan bunga The Fed memperkuat pesan bahwa pengendalian inflasi kembali menjadi prioritas utama Amerika Serikat. Sementara itu, keputusan BOJ menaikkan bunga menjadi 1,25% menunjukkan Jepang semakin jauh meninggalkan era kebijakan moneter ultra-longgar.

Fokus pasar kini bukan lagi sekadar apakah suku bunga dinaikkan. Hal yang lebih penting adalah seberapa jauh The Fed dan BOJ akan melanjutkan pengetatan, bagaimana dampaknya terhadap dolar serta yen, dan bagaimana bank sentral lain—termasuk Bank Indonesia—merespons perubahan kondisi global.

*Artikel ini merupakan informasi pasar dan edukasi umum, bukan prediksi kurs, rekomendasi investasi, atau ajakan membeli maupun menjual valuta asing. Kurs transaksi uang kertas dapat berbeda dari kurs pasar dan dapat berubah sewaktu-waktu.*

Sumber

[Reuters — The Fed menaikkan suku bunga, 16 September 2026](https://www.reuters.com/business/warshs-words-may-matter-more-than-anticipated-fed-rate-hike-2026-09-16/)
[Reuters — Wall Street menguat setelah keputusan The Fed](https://www.reuters.com/business/wall-st-futures-rise-fed-rate-hike-lifts-long-standing-overhang-2026-09-17/)
[Reuters — BOJ menaikkan bunga menjadi 1,25%](https://www.reuters.com/world/asia-pacific/boj-raises-interest-rates-31-year-high-widely-expected-move-2026-09-18/)
[Reuters — Inflasi Jepang dan kebijakan BOJ](https://www.reuters.com/world/asia-pacific/japans-august-core-consumer-prices-rise-17-yryr-2026-09-17/)
[Bank Indonesia](https://www.bi.go.id/)