13 Oktober 2026
Dolar Amerika Serikat (AS) masih bertahan di dekat level tertingginya dalam sekitar 18 bulan. Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada Senin, 12 Oktober 2026, dan rupiah membuka perdagangan Selasa pagi, 13 Oktober 2026, di zona merah.
Berikut rangkuman data pasar dan sentimen yang dicermati pelaku pasar, berdasarkan sumber yang dikutip.
Menurut CNBC, dolar AS bertahan di dekat level tertinggi 18 bulan pada Senin, 12 Oktober 2026, ditopang permintaan aset aman (safe haven) di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi konsumen AS pada Rabu, 14 Oktober 2026.
CNBC mencatat indeks dolar AS (DXY), yang mengukur dolar terhadap enam mata uang utama, naik 0,3% ke 102,57, sedikit di bawah level tertinggi 18 bulan yang dicapai pekan lalu. Data regulator pasar AS yang dikutip CNBC juga menunjukkan posisi spekulatif yang mengharapkan penguatan dolar meningkat menjadi sekitar US$36 miliar pada pekan hingga 7 Oktober 2026.
Pada Selasa pagi, CNBC Indonesia melaporkan DXY terkoreksi 0,09% ke 102,49 pada pukul 09.00 WIB, namun masih berada di sekitar posisi terkuatnya sejak April tahun lalu.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Bisnis.com menunjukkan IHSG ditutup turun 2,59% ke level 5.936,15 pada Senin, 12 Oktober 2026. Kompas.com mencatat indeks kembali turun di bawah level 6.000.
Menurut Databoks Katadata, seluruh sektor saham ditutup melemah, dengan sektor energi turun paling dalam sebesar 5,88%. Kontan menyebut sentimen risk-off di pasar domestik dan regional, serta ketidakpastian terkait evaluasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia, turut dicermati investor.
Merujuk data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, rupiah membuka perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, dengan pelemahan 0,14% ke Rp17.920 per dolar AS. Pada Senin, rupiah ditutup di Rp17.905 per dolar AS menurut data yang sama. Sementara itu, data Bloomberg yang dikutip Kontan dan Bisnis.com mencatat penutupan Senin di Rp17.913 per dolar AS; perbedaan angka ini berasal dari sumber data yang berbeda.
Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia pada 12 Oktober 2026 tercatat Rp17.899 per dolar AS, dibandingkan Rp17.884 pada 9 Oktober 2026.
Kurs spot, JISDOR, dan DXY merupakan acuan pasar, bukan kurs transaksi uang kertas Duasisi Money Changer.
Kepala Riset Pepperstone Group Chris Weston, dikutip CNBC Indonesia dari Reuters, menyebut kombinasi suku bunga AS yang relatif tinggi, pertumbuhan ekonomi AS, dan permintaan dolar sebagai aset defensif terus menopang dolar. CNBC Indonesia juga menyebut kenaikan harga energi dan imbal hasil obligasi AS turut memperkuat dolar.
Dari sisi minyak, Bloomberg Technoz mencatat harga Brent berada di US$105,85 per barel pada Selasa pagi, turun 0,75%; angka ini merupakan harga berjalan, bukan harga penutupan.
Pandangan tersebut merupakan pendapat narasumber dan tidak selalu mencerminkan pandangan Duasisi.
Untuk kebutuhan perjalanan atau transaksi, periksa kurs indikatif dan ketersediaan valuta melalui WhatsApp resmi cabang Duasisi Money Changer yang tercantum di duasisimoneychanger.co.id.
Informasi ini disusun dan ditinjau oleh Tim Duasisi berdasarkan sumber yang dinilai tepercaya pada saat publikasi, dengan dukungan teknologi AI bila relevan. Konten bersifat informatif dan edukatif, bukan rekomendasi membeli atau menjual valuta asing, saham, atau instrumen keuangan lainnya. Kurs yang ditampilkan bersifat indikatif, tidak mengikat, dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Kurs pasar tengah atau spot, termasuk kurs JISDOR, bukan merupakan kurs transaksi uang kertas Duasisi. Hubungi cabang resmi untuk memperoleh kurs transaksi yang berlaku.
Summarize by Grok Bot
Approval by Asa Dahlan